Presiden dan Sampah


Oleh : Jansen H Sinamo

Suara pria itu meninggi. Dijauhkannya dirinya seakan takut lengan kemejanya akan terkotori perempuan tua itu.

“ Apa maksudmu? Menyuruh saya mengangkat tong sampah ini? Tahukah kamu siapa saya?” tanyanya dengan nada tajam.

Perempuan tua itu terperangah. Tapi ia segera menukas. “ Saya tidak tahu, Tuan. Saya hanya ingin tahu apakah Tuan mau membantu saya membuang sampah ini ke tong yang besar itu.”

Semua orang di stassiun itu tau siapa perempuan tua ini. Sebagian besar usia dewasanya ia habiskan sebagai petugas kebersihan di lingkungan itu. Ia dikenal mencintai pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Hanya saja sore itu ia sedang kurang sehat. Badannya sangat lelah. Tatkala ia akan membuang sampah dari tong kecil ke tong yang lebih besar, ia sadari bahwa tenaganya tak kuat lagi. Itu sebabnya ia meminta tolong kepada Tuan yang kebetulan melintas di hadapannya.

“Saya tidak mau! Kalau tahu siapa saya dan apa kedudukan saya, mungkin kamu akan takut meminta bantuan saya,” tuan itu berkata dan hendak beranjak. Dari pakaian seragamnya, tampaknya ia adalah seoarang pejabat militer.

“Memang Tuan siapa? Mengapa Tuan tidak mau meonolong saya?” jawab perempuan itu dalam nada jengkel. Dan dipersempitnya jarak mereka.
Seakan tak mau buang waktu lagi, pria itu berdiri di tempatnya dengan sikap sempurna dan berkata, “Baiklah, saya akan memberitahu siapa saya, walaupun semestinya kamu sudah bisa menebaknya. Saya adalah Kolonel Brown pada Unit 35, dibawah Presiden George Washington. Puas?!”

Pada saat itu seorang pria lain melintas di hadapan mereka. Perempuan itu mencegatnya dan meminta bantuannya mengangkat tong sampah kecil itu. Tanpa bicara, permintaan itu dilayani segera, yang menyebabkan keheranan dan rasa terima kasih si perempuan tua.
Karena sangat senang, perempuan tua itu menjauh dari Tuan kolonel dan mendekati pria yang baru saja menolongnya sambil berkata, “Terimakasih Tuan atas pertolonganmu. Tapi bolehkan saya tahu siapa Tuan?

Pria penolong itu hanya tersenyum dan menjawab, “Ini hal sepele. Tak perlu Ibu mengingat siapa saya. Saya hanya orang yang ingin membantumu mebuang sampah.”

“Ya Tuan. Tapi tolonglah, saya ingin tahu siapakah orang gagah yang sudi menolong saya.” Perempuan itu terus mendesak.
Pria penolong itu tak punya pilihan lain. Ia pun menjawab pertanyaan perempuan tua itu. “Nama saya George Washington,” katanya.

Banyak sekali legenda di sekitar presiden pertama Amerika ini yang tidak dapat dicek kebenarannya. Kisah di atas salah satunya. Meskipun demikian cerita ini merupakan contoh bagus untuk menggambarkan esensi dan aksi pelayanan.

Pada mulanya, semua profesi di dunia ini eksis untuk melayani. Melalui pelayanannyalah manusia menjadi mulia. Itu sebabnya kolonel yang menolong perempuan tua itu menjadi tokoh antagonis dalam cerita di atas bukan saja karena ia merasa kehilangan kemuliaan bila melayani orang yang butuh pertolongannya.

Hal itu kontras dengan sikap George Washington yang justri memandang pelayanan sebagai kemuliaan akhlak. Dalam membantu perempuan tua itu ia malah tidak ingin dikenali sebagai seorang jenderal karena dengan perbuatan melayani itu sesungguhnya ia sudah mendapat kemuliaan, tanpa perlu embel-embel kedudukan.

Dengan memahami bahwa pelayanan adalah esensi penting dalam setiap pekerjaan, jelaslah bahwa sikap dan perilaku melayani menjadi salah satu penanda yang khas bagi orang-orang yang disebut sebagai profesional dan pribadi berkualitas.
Tidak ada yang terbebas dari kewajiban untuk menunjukan sikap dan perilaku ini karena melayani sesungguhnya merupakan salah satu hukum alam dalam kehidupan. Bila satu saja mata rantai saling melayani ini terputus, akan terjadi masalah dalam masyarakat. Bayangkan misalnya, sopir bus mogok, kacaulah seluruh kota; perawat mogok, kacaulah rumah sakit; juru masak mogok, rusaklah bisnis restoran; dan seterusnya.

Etos 8 menjanjikan sukacita dan kebahagiaan bagi mereka yang menemukan cara untuk melayani sesama manusia melalui profesinya.

Gagasan untuk diterapkan:
Rasakanlah kekayaan ini: tiap kali Anda mengulurkan tangan membantu orang lain, melayani orang lain, sesungguhnya hal itu sama dengan menambal saldo ke dalam rekening kehormatan Anda, rekening pahala Anda, rekening kebahagiaan Anda.

Cerdas melihat kesempatan melayani orang lain dan bertindak sedemikian rupa sehingga mereka dipuaskan adalah inti dari kecerdasaan spiritual, yang sesungguhnya merupakan modal penting membangun karir professional dan bisnis kita. Cobalah melihat kesempatan itu hari ini.

Sumber: Buku Kafe Etos hal 56