Menikahi Orang Yang Dicintai | Mencintai Orang Yang Dinikahi


Mengutip cerita dari blog Bagudung Saba yang saya temukan by Google. Saya mengutip seluruhnya tanpa ada mengubah isi cerita maupun tulisan. Contoh cerita ini mungkin berisi ayat2 kitab selain Al-Quran (kitab suci agama saya) namun saya hanya mengambil contoh isi ceritanya saja agar bisa kita maknai bersama-sama.

Mungkin ada temen-temen yang setuju dengan cerita di atas, tapi ada juga yang tidak setuju tentunya. Saya sendiri masih abu-abu terhadap hal ini. Saya punya cerita sendiri. Saya pernah (dan mungkin masih) mencintai lelaki selama sekitar 5 tahun menemani saya, walaupun sekarang saya sudah tidak bersamanya lagi. Kami harus menangguhkan atau bahkan mengubur cita-cita kami untuk terus bersama dikarenakan memang saat ini kami tidak bisa lagi mewujudkannya. Walaupun dalam hubungan asmara kami tidak berhasil, namun kami masih berkomunikasi biasa layaknya teman.

Saya sudah bisa melepaskannya dengan (Insya Allah) ikhlas. Saya menerima apabila memang ada orang lain yang baik yang ditentukan oleh Allah untuk menjadi suami saya kelak. Singkat cerita saya bertemu dengan seorang lelaki baik, usianya sudah matang dan usahanya sudah mapan. Secara masa depan saya melihatnya sudah cukup baik apabila memang kami ditakdirkan berjodoh. Saat pertemuan tersebut kami berbicara lancar, perkenalan berjalan cukup baik. Kemudian kami pulang ke rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah saya ceritakan kepada orangtua saya mengenai hasil perkenalan saya tersebut. Orangtua saya hanya menyarankan apabila memang orang baik-baik terimalah dengan baik. Awalnya saya pun berpikiran demikian, namun pada kenyataannya saat ini saya tidak ada perasaan apa-apa terhadap orang tersebut. Dengan kata lain tidak ada perasaan tertentu atau tidak ada perasaan tertarik terhadap orang tersebut walaupun kriteria lelaki yang saya cari ada pada orang tersebut.

Siapkah saya menikah dengan orang yang tidak saya cintai awalnya? Siapkah saya belajar mencintai suami saya kelak? Apabila saya mempunyai pilihan saya pasti ingin menikah dengan orang yang saya cintai sehingga perjalanan yang dilalui akan terasa indah. Namun berdasarkan cerita di atas, menikah dengan orang yang tidak kita cintai awalnya, juga tidak menentukan bahwa kita tidak akan bahagia menjalaninya. Untuk apa menikah dengan orang yang kita cintai apabila ujung-ujungnya bercerai? Dan bahkan tidak ada yang bisa menjamin bahwa dengan menikahi orang yang kita cintai kemudian tidak bercerai.

Dalam agama saya dikenal ajaran Ta’aruf yaitu tahap perkenalan kemudian untuk menikah. Tidak ada istilah pacaran. Ternyata dalam ajaran agama lain dikenal juga ajaran yang sama seperti halnya cerita di atas. Namun kembali lagi kepada manusianya masing-masing khususnya saya, bisakah saya ikhlas menjalankan pernikahan dengan orang yang tidak saya cintai. Ataukah saya harus menunggu seseorang a.k.a Mr. Right yang saya cintai kemudian baru menikah?

Yaaahhh we will see. Suatu hari nanti pasti ada jawabannya.
Jodoh itu misteri.
Nikmati saja saat-saat datangnya si misteri itu datang. Sambil berusaha dan berdoa tentunya.

😉
Enjoy!